Ambisi WtE Pemkot Pekanbaru: Solusi Krisis Sampah atau Proyek Berisiko Tinggi?

Rabu, 15 April 2026 | 00:48:06 WIB

PEKANBARU — Pemerintah Kota Pekanbaru mulai mematangkan langkah strategis dalam mengatasi persoalan sampah yang kian kompleks. Melalui skema pengolahan modern, dua Tempat Pembuangan Akhir (TPA) disiapkan untuk dikembangkan menjadi fasilitas pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy/WtE).

Langkah ini ditandai dengan penguatan komitmen lintas daerah serta penjajakan kerja sama dalam pengembangan teknologi pengelolaan sampah berbasis energi. Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, menegaskan bahwa transformasi sistem pengelolaan sampah menjadi prioritas penting di tengah tekanan volume sampah yang terus meningkat setiap tahun.

TPA Muara Fajar, yang selama ini menjadi tulang punggung pembuangan sampah kota, akan direvitalisasi dari sistem open dumping menuju controlled landfill. Dalam konsep ini, sampah tidak lagi sekadar ditumpuk, melainkan dikelola menggunakan lapisan membran untuk menangkap gas metana yang kemudian dapat diolah menjadi energi listrik.

Di sisi lain, Pemko juga menyiapkan satu TPA baru yang berlokasi di wilayah perbatasan dengan Kabupaten Kampar. Fasilitas ini dirancang sebagai pusat pengolahan sampah regional yang akan melayani kawasan aglomerasi Pekanbaru Raya, sekaligus menjadi proyek percontohan pengelolaan sampah berbasis teknologi di Provinsi Riau.

Secara konseptual, proyek ini tidak hanya ditujukan untuk mengurangi beban TPA, tetapi juga membuka peluang peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui produksi energi alternatif dari limbah. Namun demikian, realisasi proyek ini tidak lepas dari tantangan besar, baik dari sisi pembiayaan, kesiapan teknologi, hingga perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah.

Pengamat lingkungan menilai, keberhasilan program ini sangat bergantung pada konsistensi pemerintah dalam membenahi sistem dari hulu. Tanpa pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, potensi energi yang dihasilkan dinilai tidak akan optimal, mengingat karakteristik sampah domestik di Indonesia yang memiliki kadar air tinggi.

Selain itu, skema kerja sama dan transparansi pendanaan menjadi sorotan penting. Proyek waste to energy dikenal membutuhkan investasi besar dengan tingkat risiko yang tidak kecil. Karena itu, perencanaan matang dan pengawasan ketat menjadi kunci agar ambisi besar ini tidak berujung menjadi beban fiskal di masa depan.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, langkah Pemko Pekanbaru tetap dipandang sebagai sinyal kuat bahwa transformasi pengelolaan sampah menuju sistem yang lebih modern dan berkelanjutan mulai digerakkan. Pertanyaannya kini bukan lagi pada gagasan, melainkan pada konsistensi dan keberanian mengeksekusi.

---

Catatan kaki: Berita ini disusun oleh Tim Redaksi etalasenews.com

---

#Pekanbaru #SampahJadiEnergi #WasteToEnergy #Riau #Lingkungan #TPAMuaraFajar #KebijakanPublik #EnergiTerbarukan

Terkini