PEKANBARU — Riau kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Dr. drh. H. Chaidir, MM, tokoh politik, intelektual, sekaligus pemuka masyarakat Riau, wafat pada Selasa (18/11/2025) pukul 17.43 WIB di RS Prima Pekanbaru. Kabar duka ini meninggalkan kesedihan mendalam di tengah masyarakat, kolega, akademisi, dan para sahabat almarhum.
Chaidir dikenal luas sebagai figur yang berperan besar pada masa transisi reformasi di Riau. Dua periode menjabat sebagai Ketua DPRD Provinsi Riau—1999–2004 dan 2004–2009—ia menjadi salah satu tokoh kunci dalam pembentukan arah kebijakan daerah dan penguatan kelembagaan legislatif di masa-masa awal reformasi.
Lahir di Pemandang, Rokan Hulu, Chaidir menempuh pendidikan tinggi sebagai dokter hewan di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan lulus tahun 1978. Ia kemudian melanjutkan pendidikan pascasarjana di Universitas Padjajaran sekitar tahun 2001, serta meraih gelar Doktor Manajemen dari Universitas Pasundan Bandung tahun 2013. Jejak akademiknya juga terbangun kuat lewat berbagai kursus internasional di Australia dan Italia.
Kariernya tidak hanya berhenti di politik. Chaidir aktif mengabdi sebagai akademisi di berbagai universitas di Riau, termasuk UIR dan Universitas Riau (UNRI). Ia juga dikenal sebagai penulis produktif dengan sederet karya seperti Suara dari Gedung Lancang Kuning, Berhutang Pada Rakyat, Panggil Aku Osama, Membaca Ombak, hingga Demang Lebar Daun. Pada 2024, Chaidir meluncurkan tiga buku sekaligus: Tragedi Pandemi Virus Akal Budi, Celoteh Kedai Kopi Melayu, dan Bangsa Tersandera.
Selain dikenal sebagai intelektual Melayu, almarhum juga menjabat sebagai Ketua Umum Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau (FKPMR) dan kembali terpilih untuk periode 2025–2030. Sosoknya dihormati karena kepiawaian berdialog, kemampuan mempersatukan berbagai elemen masyarakat, serta ketegasan berpihak pada kepentingan daerah.
Tokoh masyarakat Riau yang juga mantan anggota DPR RI dari Partai Golkar, Hj Nurlia, menyampaikan duka mendalam atas kepergian Chaidir. “Riau kehilangan putra terbaik. Beliau adalah tokoh yang cerdas, bersahaja, dan memiliki dedikasi tinggi untuk daerahnya. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa almarhum dan menerima seluruh amal baiknya,” ujar Hj Nurlia.
Doa untuk almarhum terus mengalir. Masyarakat membacakan surah Al-Fatihah dan doa pengampunan sebagai penghormatan terakhir: “Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu...” Seruan agar keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran juga disampaikan banyak pihak.
Kepergian Dr. drh. H. Chaidir, MM menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang tokoh yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu, politik, masyarakat, dan budaya Melayu. Semoga almarhum husnul khatimah dan mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.