Wasekjend SPS Pusat, Moh.Hasbi: Media Harus Ubah Mindset agar Tetap Relevan di Tengah Dominasi Media Sosial

Wasekjend SPS Pusat, Moh.Hasbi: Media Harus Ubah Mindset agar Tetap Relevan di Tengah Dominasi Media Sosial

PEKANBARU – Wakil Sekretaris Jenderal Serikat Perusahaan Pers (SPS) Pusat, Moh. Hasbi, menegaskan perusahaan pers harus mengubah pola pikir dan strategi bisnis agar tetap relevan di tengah perubahan perilaku masyarakat yang kini lebih banyak mengakses informasi melalui media sosial.

Pernyataan tersebut disampaikan Hasbi saat menjadi narasumber dalam talkshow bertajuk Lanskap Media: Dulu, Kini dan Masa Depan yang digelar dalam rangka peringatan HUT ke-80 SPS di Auditorium Politeknik Caltex Riau, Senin (8/6/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Ketua SPS Riau, Saidul Tombang, Sekretaris SPS Riau, Fitrah Dayun, Ketua SPS Aceh, Moechtar, pengurus SPS Aceh Barlian Erliadi, pimpinan perusahaan pers, insan media, akademisi, mitra kerja, serta sejumlah perwakilan instansi pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.

Menurut Hasbi, perubahan lanskap informasi terjadi sangat cepat. Jika dahulu media massa menjadi sumber utama masyarakat memperoleh berita, kini media sosial justru menjadi ruang yang paling banyak digunakan publik untuk mencari informasi.

"Kalau dulu orang mencari berita ke media, sekarang hampir semua informasi bisa diperoleh melalui media sosial. Perubahan ini harus disadari oleh seluruh perusahaan pers," ujarnya.

Hasbi mengatakan, platform digital global saat ini memiliki pengaruh besar terhadap arus informasi yang dikonsumsi masyarakat. Kondisi tersebut membuat media harus beradaptasi agar tidak tertinggal oleh perkembangan teknologi.

Bahkan, lanjutnya, tanpa disadari sebagian besar aktivitas masyarakat dalam mengakses informasi telah bergantung pada platform-platform digital yang bukan dimiliki perusahaan pers.

"Bayangkan jika suatu saat platform media sosial menghentikan layanannya. Kita baru menyadari betapa besar ketergantungan masyarakat terhadap platform tersebut. Karena itu media harus memiliki strategi dan mindset baru agar tetap eksis," katanya.

Ia menegaskan, media tidak cukup hanya memproduksi berita, tetapi juga harus mampu memahami perubahan kebutuhan audiens. Konten yang disajikan harus menarik, relevan, mudah diakses, namun tetap berpegang pada prinsip-prinsip jurnalistik.

Sementara itu, Ketua SPS Riau, Saidul Tombang, mengatakan peringatan HUT ke-80 SPS menjadi momentum penting untuk memperkuat solidaritas perusahaan pers sekaligus meningkatkan kontribusi pers terhadap pembangunan daerah dan nasional.

Menurut Saidul, selama delapan dekade SPS telah menjadi bagian dari perjalanan panjang perkembangan pers Indonesia dan terus beradaptasi menghadapi berbagai tantangan zaman.

"Pers yang sehat akan melahirkan demokrasi yang sehat. Perusahaan pers yang kuat akan menghasilkan karya jurnalistik berkualitas yang menjadi referensi masyarakat dalam mengambil keputusan," ujar Saidul.

Ia menambahkan, pers memiliki peran strategis sebagai kalibrator informasi, sarana edukasi, kontrol sosial, serta jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, Barlian Erliadi memaparkan perubahan lanskap media dari masa ke masa. Menurutnya, kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi informasi telah berubah drastis dibandingkan beberapa tahun lalu.

"Dulu koran menjadi rujukan utama masyarakat. Sekarang, bahkan televisi di rumah pun sudah jarang ditonton. Karena itu media harus cerdas menyikapi perubahan agar tetap bertahan dan berkembang," katanya.

Peringatan HUT ke-80 SPS tahun ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi insan pers, tetapi juga forum refleksi untuk mencari formulasi baru dalam menghadapi tantangan industri media yang semakin kompleks di era digital. SPS sendiri merupakan organisasi perusahaan pers tertua di Indonesia yang berdiri pada 8 Juni 1946 dan hingga kini terus berperan dalam memperkuat ekosistem pers nasional yang profesional, independen, dan bertanggung jawab. (Rls)

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index