Bedah Buku Perjuangan Ekologis Dr Elviriadi Digelar di Pekanbaru, Hadirkan Sejumlah Tokoh Riau

Bedah Buku Perjuangan Ekologis Dr Elviriadi Digelar di Pekanbaru, Hadirkan Sejumlah Tokoh Riau

PEKANBARU – Dunia lingkungan hidup di Riau kembali mendapat perhatian. Pakar lingkungan sekaligus pejuang ekologis, Dr. Elviriadi, akan meluncurkan sekaligus membedah buku terbarunya berjudul Dari Tanah Jantan Membela Hutan (Setengah Abad Perjuangan Ekologis Dr. Elviriadi), Senin (15/6/2026).

Kegiatan yang akan berlangsung di Kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Riau, Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru, mulai pukul 09.00 WIB itu diperkirakan menjadi salah satu forum penting dalam diskursus lingkungan hidup di Provinsi Riau.

Buku tersebut mengangkat rekam jejak panjang perjuangan ekologis Dr. Elviriadi selama puluhan tahun dalam mengadvokasi penyelamatan hutan, mengkritisi eksploitasi sumber daya alam, hingga membela hak-hak masyarakat adat dan kelompok rentan yang terdampak kerusakan lingkungan.

Bedah buku ke-14 karya Dr. Elviriadi itu ditaja oleh organisasi Pengawal Perdamaian Dunia (The World Peace Guard/TWPG) bekerja sama dengan UIN Suska Mengajar (USM).

Ketua Umum TWPG, Ruslan SE SH, mengatakan pihaknya memberikan penghormatan atas dedikasi dan konsistensi Dr. Elviriadi dalam memperjuangkan kelestarian lingkungan hidup di Bumi Lancang Kuning.

“Buku ini bukan sekadar karya tulis. Di dalamnya terdapat catatan perjalanan panjang perjuangan ekologis yang sarat nilai edukasi, keberanian, dan integritas,” ujar Ruslan yang juga dikenal sebagai Ketua APINDO Kota Dumai serta penggagas program kredit karbon.

Sementara itu, Ketua USM, Indra, menyebut buku tersebut menghadirkan berbagai realitas konflik ekologis yang terjadi di Indonesia, khususnya Riau. Menurutnya, Dr. Elviriadi merupakan sosok akademisi yang memilih berada di garis perjuangan daripada menikmati kenyamanan kekuasaan atau fasilitas korporasi.

“Beliau adalah pembina organisasi kami. Kami salut terhadap konsistensi dan integritas perjuangan beliau. Sikap itu tergambar dari kutipan yang terpampang pada sampul buku, yakni: ‘Lebih Baik Makan Nasi Dengan Garam, Daripada Menerima Oleh-Oleh Korporasi Hitam’,” katanya.

Sejumlah tokoh penting dijadwalkan menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya Asri Auzar, Sofyan Hamzah, Wan Abu Bakar, T. Heriyanto, Kasdam Tuanku Tambusai, Bupati Bengkalis, Fachruddin Yasin, unsur mahasiswa dari HMI, KAMMI, GMNI, rektor perguruan tinggi se-Riau, Jikalahari, Walhi, serta perwakilan Polda Riau.

Adapun yang didapuk sebagai pembedah buku adalah Dr. Husnu Abadi, Prof. Dr. Edi Erwan, dan Made Ali.

Ketua panitia, Adil, berharap kegiatan tersebut tidak hanya menjadi seremoni intelektual semata, tetapi mampu membangkitkan kesadaran publik tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan di tengah meningkatnya tekanan terhadap sumber daya alam.

“Buku ini dapat menjadi referensi penting bagi generasi muda, pegiat lingkungan, mahasiswa, hingga para pengambil kebijakan agar tidak kehilangan arah dalam memperjuangkan masa depan bumi yang lebih lestari,” ujarnya.

Menurut Adil, di tengah berbagai ancaman terhadap lingkungan hidup, kehadiran buku tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga hutan dan alam bukan hanya tugas aktivis lingkungan, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat demi keberlangsungan hidup generasi mendatang. (rls)

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index